Membahas pengertian akulturasi, manfaat, dampak positif negatif, proses terjadinya akulturasi dan contoh akulturasi di kehidupan nyata
Materi Akulturasi (Pengertian, Proses, Faktor, Ciri, Dampak, dan Contoh Akulturasi)

Materi Akulturasi (Pengertian, Proses, Faktor, Ciri, Dampak, dan Contoh Akulturasi)

Posted on

Materi Akulturasi (Pengertian, Proses, Faktor, Ciri, Dampak, dan Contoh Akulturasi) – Akulturasi adalah fenomena dimana bercampurnya dua budaya atau lebih menjadi satu. Meskipun terdengar simpel namun proses akulturasi tidaklah semudah kedengarannya dan dampak sosial yang dihasilkan pun juga beragam. Para ahli menyikapi terjadinya akulturasi sebagai hal biasa di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Indonesia dikenal sebagai negara majemuk yang memiliki beragam suku bangsa, bahasa, serta adat istiadat. Dengan demikian peluang munculnya akulturasi sangatlah tinggi baik itu antar individu, kelompok, ras, maupun berskala internasional.

Akulturasi pada dasarnya termasuk satu dari sekian banyak materi sosiologi yang diajarkan di sekolah. Cakupan pembahasannya pun juga bukan main, siswa diharuskan menghafalkan pengertian akulturasi, proses terjadinya, dampak sosialnya, hingga mempelajari contoh akulturasi itu sendiri. Meskipun sudah dibekali penjelasan guru serta buku pedoman sosiologi namun tetap saja kita harus mempelajari materi akulturasi secara mendalam. Ilmu pengetahuan tidak terbatas oleh kedua sumber diatas saja melainkan bisa diakses lewat internet. Mengapa demikian? Tidak jarang materi ini dijadikan sebagai butir soal ketika ujian berlangsung.

Secara garis besar, artikel ini akan membahas lebih dalam tentang proses akulturasi serta dampak sosialnya di masyarakat. Pembehasan tersebut tidak lepas dari pengertian, ciri ciri, dan faktor penyebab akulturasi sebagai bagian awal. Menginjak sesi selanjutnya, kita akan mengupas tuntas dampak positif dan negatif akulturasi beserta contohnya dalam konteks kehidupan sehari-hari. Meskipun buku IPS sosiologi telah menyediakan berbagai materi tersebut namun terbatas hanya pengetahuan dasarnya saja. Untuk mendapatkan landasan teori yang lebih kuat serta ilmu lebih tentang akulturasi kita harus membaca sumber lainnya.

Materi Akulturasi (Pengertian, Proses, Faktor, Ciri, Dampak, dan Contoh Akulturasi)

Seperti yang kita ketahui bahwa setiap orang memiliki kepribadian berbeda, pola pikir, karakter, dan sifat yang berbeda pula. Begitu juga dengan perbedaan karakter budaya yang dimiliki masing-masing daerah. Meskipun berbeda tidak lantas membuat kebudayaan tersebut terpisah melainkan dalam beberapa kasus malah terjadi fenomena dimana dua atau lebih budaya bercampur menjadi satu. Selain itu proses akulturasi tidak hanya terjadi antar daerah saja melainkan fenomena ini bisa terjadi dalam skala global. Masuknya budaya asing misalnya, secara tidak langsung akan mempengaruhi budaya lokal di Indonesia.

Materi Akulturasi (Pengertian, Proses, Faktor, Ciri, Dampak, dan Contoh Akulturasi)
Materi Akulturasi (Pengertian, Proses, Faktor, Ciri, Dampak, dan Contoh Akulturasi)

Fenomena sosial tersebut bisa kalian temukan dalam konteks kehidupan sehari hari. Contohnya seorang perantau yang datang dari daerah lain yang membaur dengan budaya di wilayah barunya. Di lain sisi, kita pun tidak bisa menghindari adanya akulturasi karena sifat masyarakat indonesia yang notabennya majemuk.

Dalam mapel sosiologi kita harus bisa membedakan proses akulturasi yang terjadi pada tingkat individu dan kelompok. Karena tingkatan ini sedikit banyak akan mempengaruhi proses hingga dampak yang muncul akibat percampuran dua kebudayaan tersebut. Maka dari itu silahkan simak pengertian, ciri-ciri, faktor penyebab, proses terjadinya, serta contoh akulturasi pada materi berikut.

Pengertian Akulturasi

Akulturasi diambil dari kata serapan bahasa latin “Acculturate” yang artinya tumbuh kembang bersama. Dalam ilmu psikologi lintas budaya fenomena ini sering dikaitkan dengan masuknya kebudayaan asing dari luar negeri dan mempengaruhi budaya lokal. Faktanya, proses akulturasi banyak menuai tanggapan secara positif dan negatif. Banyak yang menerimanya sebagai bentuk pertukaran budaya akibat dari perkembangan jaman. Namun adapula yang menolak dengan berbagai alasan seperti menghilangkan kearifan lokal misalnya.

Banyak ahli memperdebatkan pengertian fenomena sosial yang satu ini sehingga memunculkan pemikiran general tentang fenomena ini. Pengertian akulturasi secara umum adalah proses terjadinya percampuran dua/lebih kebudayaan namun tidak menghilangkan unsur-unsur dari budaya asli itu sendiri. Proses sosial ini bisa terjadi ketika dua jenis kebudayaan berlainan saling bertemu untuk waktu yang lama dan akhirnya saling mempengaruhi satu sama lain.

Pengertian Menurut Para Ahli

Menurut Soerjono Soekanto (1990, p.87-88), dalam bukunya menuturkan bahwa akulturasi termasuk dalam proses sosial yang muncul akibat suatu kelompok (masyarakat) dengan kebudayaanya dihadapkan pada unsur-unsur kebudayaan baru. Dimana unsur kebudayaan asing tersebut lambat laun melebur menjadi satu tanpa menghilangkan kepribadian dari kedua budaya tersebut. M Hasyim (2011) juga memperkuat teori diatas dengan mengungkapkan bahwa akulturasi adalah Perpaduan antara dua atau lebih kebudayaan yang melebur menjadi satu secara damai harmonis.

Koentjaraningrat (1980) berpendapat sama bahwa terdapat dua syarat terjadinya akulturasi di masyarkat. Pertama, persamaan dimana penerimaan budaya secara sukarela sehingga tidak menimbulkan rasa terkejut ataupun penolakan. Kedua, keseragaman (homogenitas) bahwa unsur baru tersebut sama baiknya secara sifat, karakter, maupun tingkah lakunya. Jadi bisa disimpulkan bahwa pengertian akulturasi menurut Koentjaraningrat adalah percampuran dua kebudayaan yang homogen menjadi satu budaya baru dan dapat diterima oleh kedua belah pihak.

Sementara itu John W Barry (2005, p.692) menuturkan bahwa akulturasi sebagai proses perubahan sosial budaya yang mempengaruhi psikologis akibat terjadinya kontak dua kelompok yang berbeda. Herskovitz (1939) juga memperkuat teori barry yang menjelaskan pengertian akulturasi sebagai fenomena yang terjadi ketika dua kelompok atau lebih dengan kebudayaan berbeda saling terlibat kontak. Kontak kecil tersebut akhirnya diikuti dengan perubahan pola-pola budaya yang mengarah pada keselarasan.

Tujuan Akulturasi

Sebagai masyarakat madani kita harus sadar bahwa arus perkembangan jaman sudah tidak bisa dibendung lagi. Munculnya berbagai teknologi yang memudahkan umat manusia melakukan pekerjaan sehari-hari menjadi bukti jaman terus semakin maju. Melalui fenomena inilah bisa tercipta ide-ide inovatif serta gagasan baru dalam hidup bersosial. Berdasarkan penuturan para ahli tersebut kita semua setuju bahwa tujuan acculturation adalah untuk menggabungkan dua jenis kebudayaan berbeda tanpa menghilangkan karakter asli dari masing-masing budaya.

Singkatnya, tujuan akulturasi adalah memungkinkan berbagai kelompok budaya untuk berdampingan secara harmonis dan produktif. Fenomena sosial itu menciptakan kesempatan bagi kelompok budaya yang berbeda untuk memahami dan menghormati satu sama lain. Sehingga masing-masing kelompok dapat menciptakan pemahaman bersama, dan mengintegrasikan unsur-unsur budaya yang berbeda ke dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa ahli juga menyebutkan tujuan akulturasi adalah menciptakan kesempatan bagi kelompok budaya yang berbeda untuk berdampingan secara harmonis dan produktif. Proses ini bertujuan untuk memfasilitasi interaksi dan pertukaran budaya antara kelompok-kelompok tersebut dengan tujuan memungkinkan mereka untuk memahami dan menghormati satu sama lain.

Selain itu, tujuan akulturasi juga mencakup penciptaan pemahaman bersama, yang dapat membantu mengurangi potensi konflik budaya dan meningkatkan kerjasama di antara kelompok budaya yang berbeda. Selama akulturasi, kelompok budaya dapat belajar satu sama lain, mengambil yang terbaik dari budaya lain, dan mengintegrasikan unsur-unsur budaya yang baru ke dalam kehidupan sehari-hari mereka. Melalui tujuan ini, akulturasi dapat menghasilkan masyarakat yang lebih kaya secara budaya, inklusif, dan terbuka terhadap keragaman.

Faktor Penyebab Akulturasi

Setiap fenomena sosial yang terjadi pasti memiliki sebab dan akibat. Begitu juga dengan proses percampuran dua budaya tersebut juga disebabkan oleh beberapa faktor. Dalam dunia pendidikan kita sering diberikan pembelajaran tentang faktor yang mempengaruhi akulturasi secara gamblang. Meskipun demikian banyak siswa yang merasa kesulitan jika diminta menyebutkan faktor pendorong akulturasi. Padahal sudah menjadi tugas kita untuk mempelajari faktor penyebab terjadinya akulturasi sebagai bagian dari ilmu sosiologi.

Sebagai pengantar untuk memperdalam ilmu pengetahuan kita akan membahas berbagai faktor pendorong yang menyebabkan 2 budaya bisa tercampur. Secara garis besar, hanya ada 2 faktor saja yakni internal dan eksternal, namun keduanya masih bisa dijabarkan lagi menjadi butir butir faktor. Untuk lebih jelasnya silahkan simak penjelasan di bawah.

Faktor Internal Penyebab Akulturasi

Faktor internal terjadinya akulturasi berasal dari dalam diri suatu individu, bangsa, maupun kelompok. Seperti yang kita ketahui bahwa semakin jaman berkembang semakin luntur pula kecintaan masyarakat terhadap budayanya sendiri. Dengan berbagai perubahan baru tersebut tidak menutup kemungkinan munculnya penyebab akulturasi di lingkup masyarakat. Berikut ini detail penyebab interal dua jenis kebudayaan bisa menyatu antara lain:

  1. Angka kelahiran, kematian, migrasi yang fluktuatif.
  2. Munculnya ide, gagasan, maupun penemuan baru yang belum pernah ada sebelumnya.
  3. Disempurnakannya sebuah gagasan maupun alat menjadi versi terbaru.
  4. Konflik antar kelompok yang terjadi di masyarkat.
  5. Terjadinya revolusi dan pemberontakan.

Faktor internal penyebab akulturasi dapat mencakup perubahan dalam nilai-nilai dan norma-norma budaya masyarakat, migrasi internal dalam kelompok budaya, atau adanya generasi muda yang lebih terbuka terhadap budaya lain. Ketika masyarakat mengalami perubahan internal, mereka lebih cenderung terbuka terhadap pengaruh budaya dari luar.

Faktor Eksternal Penyebab Akulturasi

Faktor eksternal yang menyebabkan akulturasi tidak lain datang dari luar kelompok atau individu tersebut. Faktor dari luar akhirnya secara perlahan mengubah pola pikir dan tatanan di masyarkat dan tanpa sadar membaur dengan kebudayaan asli disana. Dalam konteks kehidupan nyata banyak sekali contoh akulturasi yang disebabkan faktor eksternal. Misalnya saja penyebaran nasrani yang diajarkan belanda ketika masa penjajahan yang akhirnya diterima oleh penduduk lokal. Dari penjelasan tersebut bisa kita tarik kesimpulan faktor eksternal akulturasi disebabkan oleh:

  1. Kondisi alam (cuaca, iklim, benca alam).
  2. Perang antar suku, ras, dan bangsa.
  3. Adanya difusi atau pengaruh kebudayaan dari negara lain.

Faktor eksternal penyebab akulturasi sering kali berhubungan dengan kontak antarbudaya yang intensif. Hal ini dapat terjadi melalui perdagangan internasional, kolonialisasi, perpindahan penduduk, atau pengaruh budaya media massa. Faktor-faktor eksternal ini mempercepat proses akulturasi dengan memperkenalkan unsur-unsur budaya asing ke dalam masyarakat lokal.

Faktor Pendorong Akulturasi

Proses akulturasi dapat terjadi karena didorong oleh beberapa faktor pendukung. Sejatinya fenomena sosial ini sangatlah labil karena tergantung pada karakteristik individu dalam suatu kelompok. Singkatnya populasi dominan dan non-dominan suatu kelompok menjadi kunci utama terjadinya akulturasi. Berikut adalah faktor pendorong yang memungkinkan fenomena ini dapat terjadi:

  1. Orientasi menuju masa depan yang lebih cerah.
  2. Keinginan untuk melangkah maju.
  3. Toleran dan adaptif terhadap perubahan yang berlangsung.
  4. Kualitas pendidikan yang membaik.
  5. Tatanan masyarakat yang terbuka.
  6. Tinggal di lingkungan majemuk.
  7. Rasa tidak puas dengan keadaan dan status sosial saat ini.

Jika setiap orang dalam sebuah kelompok memiliki pemikiran terbuka seperti diatas maka secara tidak langsung bisa menjadi faktor pendorong akulturasi. Sayangnya tidak semua percampuran kebudayaan berlangsung dengan baik. Fakta di lapangan banyak menyebutkan bahwa selama proses akulturasi sering terjadi pertentangan antara kubu pro dan kontra.

Dampak Akulturasi

Untuk menengahi permasalahan pro kontra tentang fenomena sosial tersebut kita perlu mempelajari dampak yang timbul akibat akulturasi itu sendiri. Sebagai proses sosial yang terjadi di tengah masyarkat sudah pasti akulturasi akan memberikan dampak positif dan negatif. Para pakar pun juga banyak yang menimbang apakah akulturasi lebih banyak memberikan dampak poitif maupun negatif.

Sebagai bangsa majemuk dengan barbagai suku bangsa, bahasa, dan agama kita bisa merasakan akulturasi secara langsung. Pertukaran budaya antar daerah menjadi hal yang sudah biasa dan disikapi secara normal. Namun ada kalanya budaya suatu daerah tidak sesuai dengan daerah lainnya. Seperti contoh budaya menyajikan daging kerbau sebagai hidangan di banten tidak bisa diterapkan di jawa tengah dimana biasanya masyarakat disana menghidangkan daging sapi.

Namun dari pertentangan tersebut kita harus belajar untuk saling menghormati kebudayaan antar daerah. Hal ini bertujuan untuk memperkuat rasa persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa. dengan demikian kita bisa lebih kuat ketika menghadapi gempuran budaya asing yang masuk. Sebagai referensi saya lampirkan berbagai dampak positif dan negatif akulturasi di bawah ini:

  1. Munculnya perbedaan pola pikir dan cara pandang masyarakat menuju hal baru.
  2. Berubahnya susunan serta tatanan sosial masyarakat.
  3. Berubahnya mentalitas, skill (keahlian), dan tingkat kecerdasan masyarakat.
  4. Terbukanya wawasan masyarakat untuk bisa berpikir lebih luas.
  5. Berubahnya pola pergaulan antar individu.

Berbagai dampak akulturasi tersebut bisa mengarah pada hal baik dan buruk. Hanya kita sebagai individulah yang mampu menilai arah perubahan tersebut. Menurut kamu terjadinya akulturasi lebih memberikan dampak baik atau buruk?

Proses Terjadinya Akulturasi

Akulturasi yang merupakan fenomena sosial tidak terjadi begitu saja. Percampuran antara kebudayaan yang berbeda terjadi melalui proses panjang yang sulit untuk dideskripsikan. Hal ini sama halnya seperti kita menggabungkan banyak gagasan/ide menjadi satu ketika musyawarah.

Dalam implementasinya, akulturasi bisa terjadi lewat kontak budaya yang dibuat masing-masing kelompok/individu. Bentuk dari kontak inipun juga beragam, diantaranya:

  1. Kontak budaya sebagai bentuk persahabatan.
  2. Kontak budaya antara kelompon superior dan inferior di berbagai bidang misalnya ekonomi, sosial, kekuasaan, dan lain sebagainya.
  3. Kontak budaya antar kelompok mayoritas dan minoritas.
  4. Kontak budaya yang terjadi di setiap lapisan masyarakat.
  5. Kontak budaya secara sistem baik itu sosial, politik, maupun budaya.

Proses terjadinya akulturasi adalah tahapan yang kompleks dan terkadang berjalan dalam berbagai arah tergantung pada konteksnya. Proses ini melibatkan interaksi antara dua atau lebih kelompok budaya yang berbeda dan berlangsung dalam beberapa tahapan.

Proses akulturasi bisa menimbulkan baik dampak positif dan negatif secara signifikan pada masyarakat yang terlibat. Oleh karena itu, penting untuk memahami dan mengelola proses ini dengan bijaksana. Hal ini mencakup penghargaan terhadap budaya asli, promosi dialog antarbudaya yang sehat, dan penanganan konflik budaya dengan cermat.

Dengan demikian, masyarakat dapat merasakan manfaat dari interaksi budaya tanpa kehilangan identitas budaya asli. Mereka pun juga tak akan merasa terancam oleh perubahan budaya yang berlebihan.

Contoh Akulturasi di Berbagai Bidang

Bergabungnya dua budaya menjadi satu terjadi dalam berbagai bidang tidak hanya dalam konteks sosial saja. Faktanya, kita sudah mengalami berbagai proses akulturasi bahkan sejak jaman sanksekerta dimana kerajaan nusantara menganut corak aliran hindu-buddha. Lambat laun kebudayaan tersebut juga tercampur dengan berbagai unsur yang datang dari luar. Unsur kolonialisasi serta islami juga turut menghiasi proses pembentukan budaya nusantara hingga saat ini. Pada sesi terakhir kali ini saya akan memberikan beberapa contoh akulturasi di Indonesia yang mencakup berbagai bidang.

Arsitektur Bangunan

Sudah bukan rahasia lagi kalau bangsa kita mengadaptasi desain bangunan dari generasi-kegenerasi. Ditemukannya candi bercorak hindu-buddha menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Indonesia jaman dulu mengadaptasi budaya hindu (india) dan mengaplikasikannya untuk membuat candi. Pada candi-candi tersebut kita bisa mengamati setiap ukiran, ornamen, dan patung yang menyerupai candi di negara hindu buddha lainnya.

Di beberapa kota juga terdapat bangunan bersejarah dengan gaya kolonialisasi yang menjadi bukti masyarakat pernah mengadaptasi arsitektur bangsa eropa. Hingga saat ini pun bangunan tersebut masih berdiri kokoh dan menjadi destinasi wisaata. Tidak berhenti disitu saja, Corak budaya islami juga turut mewarnai arsitektur bangunan nusantara. Masjid misalnya, dengan atap dibuat berlapis dan bersusun semakin kecil diatasnya mengadaptasi bangunan joglo sebagai rumah adat. Tidak seperti negara di timur tengah, Masjid di Indonesia pun dibangun tanpa menara menjulang tinggi keatas bukti bahwa masyarakat selain mengadaptasi budaya Islam juga menjunjung tinggi kearifan lokal.

Bidang Kesenian

Contoh akulturasi di bidang kesenian terdapat pada seni tari tradisional suku betawi. Suku tersebut tersebar dan bermukim di berbagai penjuru jakarta mulai dari daerah pesisir pantai hingga perbukitan. Perbedaan wilayah serta teritorial inilah yang menciptakan perbedaan karakter maupun cerita dalam tarian yang sama.

Di tanah jawa kita mengenal budaya wayang sebagai salah satu warisan nenek moyang yang harus dilestarikan. Kebudayaan ini sudah ada bahkan semenjak jaman sanksekerta di Indonesia dengan latar belakang dan cerita ala hindu-buddha. Namun hingga era persebaran islam, wayang kulit masih dilestarikan bahkan dipakai untuk kepentingan berdakwah sunan kalijogo. Hingga pada akhirnya munculah berbagai pertunjukan wayang seperti wayang golek dan wayang orang.

Selain itu masih banyak sekali pementasan budaya serta tari-tarian yang didalamnya mengadaptasi gerakan keagamaan. Misalnya saja permainan debus yang berasal dari banten dimana pemain menancapkan benda tajam namun tidak terluka. Namun sebelum melaluinya mereka akan menyanyikan shalawat nabi terlebih dahulu.

Dalam Berpakaian

Dalam berpakaian kita bisa melihat contoh akulturasi secara kasat mata. Jika sekarang ini kita sudah mulai terpengaruh budaya berpakaian kebarat-baratan lain halnya dengan para leluhur kita. Jaman dulu cara berpakaian ditentukan berdasarkan kastanya, namun seiring masuknya islam tidak ada lagi sistem kasta karena Agama Islam memiliki filosofi bahwa manusia memiliki derajat yang sama di mata Allah. Di masa sekarang ini masyarakat muslim bahkan sudah banyak yang mengenakan jilbab dan mengikuti anjuran Quran dan Hadist.

Selanjutnya adapula budaya cina yang diakulturasi oleh masyarakat islam di Indonesia yakni baju sembahyang. Kita biasa mengenalnya dengan baju koko, meskipun baju ini memiliki ornamen muslim namun kemunculannya diadaptasi dari budaya masyarkat tionghoa. Berbeda jauh dengan masyarakat negara islam lainya seperti arab yang mengenakan sorban, gamis, dan lain sebagainya.

Itulah materi akulturasi yang dapat saya sampaikan dalam artikel singkat kali ini. Sebagai individu yang terdidik kita harus pandai dalam menyikapi perubahan kebudayan yang disebabkan karena fenomena ini. Menjunjung tinggi kearifan lokal dan melestarikan budaya bangsa menjadi tanggung jawab kita sebagai generasi penerus. Namun hal tersebut tidak serta merta menutup peluang untuk melangkah maju menuju masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *